Pada 11–15 Juli 2026, Santa Clara Choir (SCC) SMP Katolik Santa Clara Surabaya mendapat kesempatan istimewa untuk melakukan perjalanan ke Hangzhou, China, dalam rangka mengikuti rangkaian penampilan dan kegiatan paduan suara internasional. Perjalanan ini menjadi pengalaman yang tidak hanya mempertemukan SCC dengan panggung internasional, tetapi juga menghadirkan cerita tentang kerja keras, kebersamaan, persahabatan, dan berbagai pengalaman baru.

Awalnya, Santa Clara Choir (SCC) berencana pergi ke Jepang untuk mengikuti sebuah lomba internasional. Namun, rencana tersebut akhirnya batal. Tidak lama setelah itu, justru datang sebuah kesempatan yang sama sekali tidak kami sangka-sangka: SCC mendapat undangan untuk tampil di Hangzhou, China.

Kesempatan tersebut datang melalui Pak Budi Susanto Yohanes, seorang konduktor dan komposer paduan suara Indonesia yang aktif di tingkat nasional dan internasional. Beliau mendapat undangan dari Pemerintah Hangzhou untuk membawa beberapa sekolah tampil dalam rangkaian kegiatan di sana.

 

Lima Bulan Persiapan Menuju China

Sejak saat itu, persiapan pun dimulai. Kami memiliki waktu sekitar lima bulan untuk mempersiapkan penampilan dengan kurang lebih dua belas lagu. Tantangannya cukup besar karena sebagian besar lagu yang akan dibawakan merupakan lagu baru. Artinya, kami tidak hanya harus berlatih untuk penampilan, tetapi juga harus mempelajari lagu-lagu tersebut dari awal.

Untuk mendukung keberangkatan, kami juga sempat melakukan penggalangan dana dengan berjualan cincau di sekolah. Bahkan ketika sekolah sudah memasuki masa liburan, latihan SCC belum ikut libur. Dari Senin hingga Sabtu, kami tetap datang ke sekolah untuk berlatih, biasanya mulai pukul 08.00 hingga 12.00, bahkan terkadang sampai pukul 14.00.

Sebelum keberangkatan, kami mengadakan konser pamit pada Sabtu, 4 Juli 2026. Salah satu momen yang paling berkesan adalah ketika di bagian akhir kami tampil bersama alumni SCC  (Re Price Alumni TICC). Setelah konser tersebut, rasanya kami mulai benar-benar menyadari bahwa sebentar lagi kami akan berangkat ke China.

 

Perjalanan Panjang Menuju Hangzhou

11 Juli 2026 akhirnya tiba. Pesawat kami dari Surabaya dijadwalkan berangkat pukul 10.25. Namun, sejak sekitar pukul 07.30 kami sudah berkumpul di Bandara Juanda. Sebelum check-in, kami terlebih dahulu melakukan doa bersama. Setelah semua persiapan selesai, kami menunggu hingga waktunya berangkat.

Penerbangan pertama membawa kami menuju Changi Airport, Singapura. Kami transit selama kurang lebih tiga jam. Karena sebagian besar dari kami belum pernah mengunjungi Changi Airport, kami pun memanfaatkan waktu tersebut untuk berkeliling dan mencari makanan.

Sekitar pukul 17.40, kami melanjutkan perjalanan menuju Hangzhou. Menurut jadwal, kami seharusnya tiba sekitar pukul 22.50. Namun, ketika pesawat mulai mendekati Hangzhou sekitar pukul 22.10, tiba-tiba terjadi turbulensi yang cukup kuat. Pesawat bahkan sempat berputar-putar beberapa kali sebelum akhirnya dapat mendarat dengan aman.

Suasana di dalam pesawat pun langsung berubah. Ada yang panik, ada yang memilih memejamkan mata karena merasa pusing dan mual, dan ada juga yang justru tertidur. Namun, puji Tuhan, kami akhirnya tiba dengan selamat di Hangzhou.

Begitu turun dari pesawat dan keluar dari bus, kami langsung merasakan angin yang sangat kencang. Saat itu, wilayah sekitar Hangzhou memang sedang terdampak Typhoon Bavi sehingga kondisi cuaca cukup ekstrem.

Kami akhirnya tiba di hotel sekitar pukul 01.00 dini hari. Sekitar pukul 01.30, kami diminta berkumpul untuk menyerahkan HP kepada pendamping. Kami juga mendapat kabar bahwa karena kondisi typhoon, agenda penampilan yang seharusnya berlangsung pagi hari ditunda sehingga kami diperbolehkan bangun lebih siang. Mendengar kabar tersebut, tentu saja anak-anak langsung senang.

 

Hari Pertama di Hangzhou: Typhoon dan Perpindahan Hotel

Keesokan paginya, kami bangun, mandi, lalu sarapan bersama di hotel. Pilihan makanan yang tersedia cukup terbatas sehingga beberapa siswa memilih menikmati makanan ringan yang dibawa dari rumah.

Di luar hotel, angin masih bertiup sangat kencang akibat Typhoon Bavi. Agenda yang seharusnya berlangsung pagi hari pun kembali mengalami perubahan karena lokasi konser terdampak banjir.

Kami sebenarnya sudah bersiap, packing, bahkan beberapa barang sudah diletakkan di luar kamar. Namun, karena agenda berubah, kami diminta kembali ke kamar. Beberapa kamar bahkan sudah dibersihkan oleh housekeeper. Pak Budi kemudian berkomunikasi dengan housekeeper menggunakan Google Translate agar kami dapat kembali masuk ke kamar.

Karena HP kami dikumpulkan, beberapa kegiatan sederhana seperti membeli makanan dari vending machine hotel pun menjadi tantangan tersendiri. Ada yang akhirnya hanya berkeliling hotel atau berkunjung ke kamar teman. Tidak lama setelah pukul 10.00, kami kembali bersiap untuk pindah ke hotel yang akan menjadi tempat kami menginap selama beberapa hari, yaitu Red Star Hotel.

Sepanjang perjalanan menuju hotel, kami melihat pemandangan Hangzhou yang sangat berbeda dari Indonesia. Pohon-pohon tinggi menghiasi jalan dan langit Hangzhou terlihat begitu indah. Namun, sisa-sisa typhoon masih terlihat di berbagai tempat. Sepeda listrik terjatuh, water barrier bergeser, dan berbagai benda lainnya tampak berserakan di sepanjang jalan.

Sesampainya di Red Star Hotel, kami menata koper di lobby sebelum menuju restoran untuk makan siang. Setelah makan, kami mendapatkan pembagian kamar dan beristirahat. Sore harinya, kami kembali berkumpul untuk makan malam. Setelah itu, kami menuju lantai paling atas hotel untuk latihan. Latihan choir berlangsung hingga hampir tengah malam. Setelah latihan selesai, kami langsung diminta beristirahat karena jadwal keesokan harinya cukup padat.

 

Menjelajahi West Lake

Keesokan paginya, kami sarapan dan seharusnya berkumpul di lobby pukul 08.00 untuk berangkat menuju West Lake. Namun, ternyata ada dua teman kami yaitu Davin dan Ashley yang bahkan pada pukul 08.00 belum sarapan. Bangun pun belum! Padahal sejak pagi sudah dilakukan morning call.

Kami pun berangkat menuju West Lake. West Lake merupakan salah satu tempat yang sangat menarik untuk dikunjungi. Kami menaiki kapal besar yang membawa kami berkeliling danau. Selama perjalanan, kami juga dipandu oleh Miss Jean, tour guide berbahasa Inggris yang mendampingi kami selama perjalanan di Hangzhou.

Di atas kapal, kami bergantian berfoto di bagian belakang kapal yang terbuka. Salah satu hal yang paling menarik perhatian kami adalah sebuah spot di West Lake yang ternyata tergambar pada uang kertas resmi China. Rasanya tidak menyangka bahwa SCC yang awalnya hanya berencana mengikuti kegiatan di Jepang, akhirnya justru dapat datang sejauh ini dan melihat secara langsung salah satu tempat terkenal di China.

Di sekitar West Lake juga terdapat banyak kios oleh-oleh. Ada kipas, gantungan kunci, notebook, tusuk rambut, makanan, teh, dan berbagai barang lainnya. Namun, dibandingkan membeli oleh-oleh, lebih banyak anak SCC yang justru memilih membeli es krim karena cuaca saat itu cukup panas.

 

Mengenal Kain Sutra China

Destinasi berikutnya adalah museum kain sutra. Di tempat ini, kami mengenal proses pembuatan kain sutra premium yang berasal dari berbagai jenis ulat sutra. Setelah mengikuti tur, kami diarahkan menuju toko yang berada di dalam museum. Di sana tersedia berbagai produk berbahan sutra, mulai dari baju, dress, pakaian dalam, jaket, sprei, hingga berbagai produk lainnya.

Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan untuk makan siang di sebuah restoran besar. Kami duduk sesuai kelompok suara, seperti Sopran 1, Sopran 2, Alto 1, dan Alto 2. Di setiap meja tersaji minuman bersoda. Hampir semua anak SCC langsung membuka dan menikmati minuman tersebut. Namun, anak-anak Sopran 1 memilih tidak meminumnya karena ingin tetap menjaga kondisi suara untuk penampilan berikutnya. Ketika makanan datang, kami cukup terkejut karena banyak sekali hidangan yang terlihat menggugah selera.

Di tengah makan siang, tiba-tiba tour guide dan pendamping datang membawa sebuah kue ulang tahun dengan lilin berbentuk bunga yang besar. Ternyata, hari itu, 13 Juli 2026, adalah ulang tahun Chalma yang ke-14. Kami pun merayakan ulang tahun Chalma bersama-sama. Kue tersebut dibagikan kepada seluruh anggota SCC dan menjadi salah satu momen sederhana yang membuat perjalanan kami semakin berkesan.

 

Penampilan Pertama di Hangzhou No. 2 High School

Setelah makan siang, kami kembali ke hotel untuk mempersiapkan penampilan. Selanjutnya, kami berangkat menuju Theatre of Binjiang Middle School Affiliated with Hangzhou Senior High School.

Di sana kami melakukan uji coba panggung dan menyanyikan beberapa potongan lagu. Selain SCC, terdapat pula choir dari Rusia yang melakukan persiapan sebelum tampil. Sebelum acara dimulai, kami sempat makan di cafetaria bersama beberapa panitia dan peserta dari Rusia.

Ketika tiba waktunya tampil, SCC mendapat sambutan dan tepuk tangan yang meriah dari penonton yang sebagian besar merupakan pelatih-pelatih choir. Selain SCC, terdapat choir dari Rusia dan China yang juga tampil. Masing-masing kelompok membawakan lagu dengan ciri khas mereka sendiri. Setelah penampilan selesai, kami berfoto bersama kedua choir tersebut.

Momen tersebut juga menghasilkan cerita lucu. Beberapa anak dari Rusia mencoba mengajak kami berbicara. Meskipun terlihat seperti penutur bahasa Inggris, ternyata mereka tidak terlalu bisa berbahasa Inggris. Aksen mereka juga cukup sulit kami pahami.

Salah satu kalimat yang mereka coba sampaikan adalah bahwa kami ternyata menginap di hotel yang sama. Namun, yang terdengar oleh kami justru seperti, “You me one house.” Kami pun sempat kebingungan sebelum akhirnya memahami maksud mereka. Momen kecil seperti inilah yang membuat perjalanan menjadi semakin seru.

 

Berbagi Pengalaman dalam Workshop

Keesokan paginya, kami kembali bangun pagi untuk mengikuti workshop. Setelah sarapan, kami kembali menuju Theatre of Binjiang Middle School Affiliated with Hangzhou Senior High School dengan mengenakan seragam SCC berwarna biru.

Dalam workshop tersebut, Kak Atha menjelaskan berbagai teknik bernyanyi yang kami gunakan, mulai dari teknik vokal, pemanasan, rutinitas latihan, hingga berbagai tips dalam berlatih choir. Penjelasan tersebut kemudian diterjemahkan oleh salah satu peserta kepada para audience. Menariknya, sebagian audience workshop merupakan pelatih-pelatih choir yang sebelumnya menyaksikan penampilan SCC.

Bagi kami, pengalaman tersebut menjadi kesempatan untuk tidak hanya tampil, tetapi juga berbagi proses dan pengalaman yang kami jalani selama menjadi bagian dari SCC.

 

 

Menuju Qiandao Lake Alpha City

Setelah workshop, kami melanjutkan perjalanan menuju Qiandao Lake Alpha City, tempat penampilan kami berikutnya. Sesampainya di sana, kami langsung melakukan uji coba panggung kemudian makan siang.

Setelah itu, kami menuju ruangan yang digunakan sebagai backstage. Di sana kami berganti pakaian, melakukan make up, dan hair do bersama peserta lain yang juga akan tampil. Ketika acara dimulai, SCC tidak langsung membawakan seluruh lagu sekaligus. Kami beberapa kali naik ke atas panggung dan setiap kali tampil membawakan sekitar tiga lagu. Setelah itu, kami turun dan memberikan kesempatan kepada kelompok lain untuk tampil.

Ada choir lain yang bernyanyi, ada pula kelompok yang menampilkan tarian. Setelah penampilan mereka selesai, SCC kembali naik ke panggung untuk membawakan lagu berikutnya. Pola tersebut berlangsung hingga mendekati akhir acara.

 

“Ru Yuan”

Salah satu lagu yang kami bawakan adalah Ru Yuan. Lagu tersebut memiliki lirik yang puitis dan emosional, menggambarkan rasa terima kasih, pengorbanan generasi terdahulu, serta keinginan untuk meneruskan impian dan cinta yang telah mereka tinggalkan.

Setiap kali membawakan lagu tersebut, baik dalam konser sebelumnya maupun di Qiandao Lake Alpha City, kami selalu mendapatkan tepuk tangan yang sangat meriah dari penonton. Hal tersebut membuat Ru Yuan menjadi salah satu penampilan yang paling berkesan bagi kami.

Sebagai penutup acara, kami membawakan lagu Tónghuà Qiāndǎohú. Lagu tersebut memiliki hubungan dengan tempat kami tampil karena judulnya sendiri merujuk pada Qiandao Lake.

Saat lagu dinyanyikan, beberapa anak kecil tampil di depan kami sambil bernyanyi dan menari. Kami berada di belakang mereka sambil bernyanyi. Pemandangan tersebut terasa sangat menggemaskan sekaligus menjadi penutup yang menyenangkan untuk penampilan SCC di Qiandao Lake Alpha City.

 

Bertemu Teman-Teman Baru dari China

Setelah acara selesai, kami ternyata tidak langsung meninggalkan lokasi. Kami justru sibuk berfoto dan berkenalan dengan anak-anak China yang juga tampil.

Ada yang mengajak berfoto bersama, meminta WeChat, dan ada pula yang langsung mengajak berbicara.

Bahkan, saat makan siang sebelumnya, Rafael sempat berkenalan dengan beberapa “gege” dari China. Awalnya hanya bercanda dan sok kenal, tetapi akhirnya kami ikut berbincang dan berkenalan dengan mereka. Ada pula seorang penari yang memberikan es krimnya kepada salah satu anak SCC. Dari yang awalnya hanya datang untuk tampil, kami akhirnya pulang membawa foto bersama, teman baru, WeChat baru, bahkan es krim.

Interaksi tersebut menjadi salah satu bagian paling menyenangkan dalam perjalanan kami. Kami tidak hanya bertemu peserta dari negara lain di atas panggung, tetapi juga benar-benar berinteraksi dan membangun pertemanan.

Sebenarnya, teman-teman baru sudah mulai kami temui sejak masih berada di sekolah. Sepanjang perjalanan, selalu ada orang baru yang kami temui dan ajak berbicara. Kami pun menyadari bahwa salah satu hal paling berharga dari perjalanan ini bukan hanya kesempatan tampil di China, tetapi juga kesempatan untuk pulang membawa begitu banyak cerita dan kenalan baru dari berbagai negara.

 

Menjelajahi Qiandao Lake dan He Fang Street

Malam harinya, kami kembali ke hotel dan beristirahat. Namun, tidak semua langsung tidur. Beberapa anak masih keluar kamar karena harus mengembalikan kostum yang sebelumnya digunakan untuk penampilan. Ada juga yang berjalan-jalan di sekitar Alpha City, membeli snack, atau mencari makanan.

Keesokan paginya, kami sarapan di restoran Alpha City. Pilihan makanannya cukup beragam. Restoran tersebut sangat ramai sehingga beberapa makanan sempat habis. Namun, di belakang setiap konter terdapat petugas yang terus memasak kembali makanan sehingga persediaannya tetap tersedia.

Setelah sarapan, kami bersiap untuk check out dan melanjutkan perjalanan menuju The Zhejiang Provincial Museum di Zhijiang Cultural Center. Di museum tersebut, kami mengenal sejarah masyarakat China sebelum masa kemerdekaan. Terdapat berbagai artefak, video pendukung, serta patung-patung yang menggambarkan masyarakat China pada zaman dahulu.

Bagi beberapa anak, kunjungan museum menjadi kesempatan untuk mengenal sejarah China. Namun, setelah beberapa hari tidak diperbolehkan menggunakan HP, sebagian anak juga cukup antusias mengabadikan momen dengan berfoto. Setelah dari museum, kami menuju viewing point Qiandao Lake.

Sepanjang perjalanan, kami sempat melewati sebuah gedung yang menjual mainan, minuman, dan snack. Banyak anak SCC membeli minuman karena harga beberapa produk terasa cukup murah jika dikonversikan ke rupiah. Sesampainya di viewing point Qiandao Lake, kami berfoto bersama, membuat video transisi, dan beberapa anak juga diminta bernyanyi sambil membawa banner SCC.

Kami bahkan merekam yel-yel “Santa Clara Choir, Let’s Sing, Let’s Go!” di berbagai lokasi wisata yang kami kunjungi. Setelah itu, kami kembali ke Alpha City untuk makan siang. Setelah makan siang, kami melanjutkan perjalanan menuju He Fang Jie atau He Fang Street.

Bagi kami, He Fang Street memiliki suasana yang mirip dengan Jalan Malioboro di Yogyakarta. Banyak toko oleh-oleh dan wisatawan memenuhi kawasan tersebut. Berbagai makanan dan snack juga dijual dengan harga yang cukup terjangkau. Di sana, anak-anak SCC diperbolehkan berjalan-jalan sendiri sambil menikmati makanan atau mencari oleh-oleh.

Salah satu pengalaman yang paling lucu terjadi ketika kami menemukan toko yang membuat Dragon’s Beard. Di sana terdapat dua pekerja yang bersama-sama mengolah adonan hingga mencapai tekstur yang sesuai.

Beberapa anak SCC, guru pendamping, bahkan Kak Atha ikut mencoba proses tersebut bersama pekerja di sana. Momen tersebut tentu saja langsung menjadi bahan dokumentasi. Banyak anak dan pendamping yang merekam kejadian tersebut sebagai salah satu kenangan lucu selama berada di China.

Saatnya Kembali ke Indonesia

Setelah dari He Fang Street, kami makan malam bersama sebelum akhirnya menuju bandara. Sebelum berangkat ke airport, kami harus berpamitan dengan Kak Vicky yang masih melanjutkan perjalanannya di China. Sesampainya di bandara, kami juga menyempatkan diri berfoto bersama Jane karena saat itu menjadi salah satu momen terakhir kami bertemu dengannya.

Setelah masuk ke area bandara, kami harus mengantre cukup lama untuk mengambil boarding pass karena banyak penumpang yang akan menuju Indonesia.  Setelah mendapatkan boarding pass, kami meletakkan tas di tempat yang diawasi oleh mama-mama pendamping. Sebelum boarding, beberapa anak memanfaatkan waktu untuk berganti pakaian, mencuci muka, bahkan menyikat gigi.

Setelah beberapa hari menjalani jadwal yang padat, rasa lelah mulai terasa. Saat waktu boarding tiba, sebagian besar dari kami sudah mengantuk dan hanya ingin segera masuk ke pesawat untuk beristirahat.

Perjalanan kami dari Surabaya menuju Hangzhou yang awalnya tidak pernah kami bayangkan akhirnya menjadi sebuah pengalaman yang penuh cerita: mulai dari latihan selama berbulan-bulan, menghadapi perubahan jadwal akibat typhoon, tampil di hadapan pelatih-pelatih choir dari berbagai negara, mengikuti workshop, mengunjungi berbagai tempat di Hangzhou, hingga bertemu dan berkenalan dengan teman-teman baru.

Perjalanan ini mengajarkan kami bahwa kesempatan terkadang datang dari arah yang tidak pernah kita duga. Rencana ke Jepang memang tidak terlaksana, tetapi justru dari perubahan itulah kami mendapatkan kesempatan untuk membawa nama SCC dan Santa Clara hingga ke Hangzhou, China.

Bagi kami, perjalanan ini bukan sekadar perjalanan untuk bernyanyi dan tampil di atas panggung. Ini adalah perjalanan tentang keberanian mencoba, kerja keras dalam mempersiapkan diri, kebersamaan, persahabatan, dan pengalaman baru yang akan selalu menjadi bagian dari cerita SCC.

Santa Clara Choir — Let’s Sing, Let’s Go! (Syrena M. & Sarah Chalma)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *